|
|
|
20 November 2008 - 14:51:31
Koran Sindo : Peluang Bisnis di Saat Krisis
Peluang Bisnis di Saat Krisis
Sunday, 12 October 2008
ImagePROSPEKTIF: Penjualan parfum kini tak hanya didominasi oleh pusat-pusat perbelanjaan besar saja, tetapi juga pengusaha perorangan. Modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar namun bisa mendatangkan keuntungan berlipat.
KRISIS ekonomi global seharusnya tidak menyebabkan gairah memulai berusaha menurun.Karena masih cukup banyak peluang usaha yang bisa dilakukan.
Untuk memulainya pun tidak memerlukan modal besar.Salah satu jenis usaha yang memiliki prospek menjanjikan adalah membuka usaha parfum. Bisnis tersebut mempunyai prospek potensial karena parfum tak sekadar berfungsi sebagai wewangian pengharum tubuh.
Namun juga bisa membuat pedepemakainya.Selain itu, parfum bukan lagi monopoli kaum hawa. Bahkan, di kalangan eksekutif muda, parfum sudah menjadi kebutuhan primer. Seperti bisnis lainnya,agar bisa sukses pada bisnis ini ada baiknya masyarakat mengetahui dua hal, yakni masalah non-teknis dan masalah teknis.
Pada masalah non-teknis,masyarakat harus memiliki tujuan yang jelas untuk berhasil dalam bisnis ini. Adapun masalah teknis yang harus diketahui masyarakat sebelum membuka usaha ini adalah mengetahui pengetahuan tentang produk yang hendak dijual.
Pemilik Parfum Point Setiawan DN mengatakan, bisnis parfum memiliki prospek yang baik. Pasalnya,parfum merupakan kebutuhan masyarakat dalam melakukan hubungan sosialnya. Parfum bisa menjadi salah satu peranti manusia sebagai makhluk sosial agar dapat bernilai lebih sehingga memantapkan diri dalam berinteraksi dengan sesama.
Parfum bisa membuat penggunanya menjadi lebih respek kepada lingkungan dan membuat penggunanya menjadi memiliki karakter tersendiri. Karena itu dalam berinteraksi sosial,orang lain bisa lebih menghargai.
Tentunya kita akan lebih respek dengan orang yang bersih, rapi, dan wangi.Kesan yang didapat adalah jika kita menghargai diri kita sendiri, orang lain pun akan menghargai kita, paparnya saat dihubungi SINDO. Parfum Point merupakan distributor parfum refill (isi ulang) yang meniadakan batasan dari sisi target market.
Semua segmen dapat menggunakan produk ini. Golongan menengah ke atas maupun low end, tua, maupun muda, pria maupun wanita. Karena itulah, kemungkinan mendapatkan keuntungan dari menjual parfum yang dijualnya menjadi lebih besar.
Apalagi dari sisi harga, relatif lebih rendah dari parfum asli. Parfum refill jauh lebih murah. Dari sisi kualitas dapat diandalkan. Parfum refill dapat dikemas dengan selera kita sendiri, katanya.
Saat ini ada sekitar 300 jenis parfum lebih,dan modal awal memulai bisnis parfum sangat bervariasi tergantung dari berapa jenis parfum yang akan dijual. Karena itu ada baiknya terlebih dahulu memilih 30 jenis parfum yang paling diminati masyarakat.
Modal awal untuk menjadi penjual eceran dengan membeli 30 jenis parfum yang dijualnya antara Rp10 juta hingga Rp20 juta. Dia menjelaskan, dana tersebut dipergunakan untuk membeli berbagai kebutuhan.
Sebut saja bibit refill 30 jenis parfum dan kemasan kecil untuk memudahkan berjualan seharga Rp8 juta,dan peralatan Rp1,5 juta.Peralatan yang digunakan yakni untuk injektor, alkohol dan botol-botol plastik maupun kaca sebagai media pengemasan agar parfum dapat dikemas sesuai kebutuhan.
Membuka usaha ini juga memerlukan dana untuk media promo Rp2 juta. Media promo diperlukan agar outlet yang dimiliki segera dikenal pasar.Promo bisa dilakukan melalui beberapa media, seperti radio, pemasangan baliho, pamflet, web internet, dan brosur.Sementara untuk sewa tempat dan outlet diperkirakan membutuhkan dana Rp3 juta.
Walaupun penting, dalam bisnis ini modal uang bukanlah segala-galanya dalam membuka bisnis ini.Yang paling utama adalah niat dan kemantapan hati untuk memulai bisnis dan menikmati setiap tantangan.
Dengan begitu, segala masalah bisa dianggap sebagai tantangan agar otak kanan dan kiri selalu bekerja untuk merespons setiap persoalan yang timbul. Pelaku usaha juga harus rajin belajar mengenai berbagai produk parfum.
Mulai jenis,wangi, harga, maupun peruntukannya. Dengan begitu, bukan sekadar menjual parfum,tetapi juga bisa menjadi konsultan bagi customer dalam memilih parfum. Balik modal usaha ini sangat bervariasi karena tergantung pada modal, omzet, dan lokasi.
Semakin besar modal awal yang dikeluarkan, tentu akan semakin lama balik modal. Namun, berdasarkan pengalamannya,balik modal dalam usaha ini hanya membutuhkan waktu sekitar 6 bulan sampai 12 bulan.Bisnis parfum keuntungannya lumayan besar.Seperti bisnis makanan.
Sekitar 30% sampai dengan 50% bahkan lebih, kata Setiawan. Dia mengatakan, segala upaya dalam marketing program sesungguhnya hanya membuat konsumen datang ke outlet dan membeli produk yang ditawarkan. Karena itulah, diperlukan suatu pelayanan yang baik agar konsumen menjadi pelanggan tetap.
Di antaranya dengan tetap fair atas apa yang diberikan, seperti transparansi dalam komposisi parfum. Sementara pemilik Rumah Parfum Eillen Stephanie menjelaskan,memulai usaha parfum melalui tempatnya setidaknya membutuhkan modal awal Rp30 juta.
Nilai tersebut masih bisa lebih rendah atau lebih mahal, tergantung dari banyaknya stok parfum yang dibutuhkan dalam memulai usaha. Dia menambahkan,besarnya modal awal juga dipengaruhi lokasi penjualan.Semakin bagus lokasi,akan menyebabkan modal awal yang harus dikeluarkan bertambah tinggi.
Misalkan saja, menjual parfum online relatif lebih murah dibandingkan menjual parfum di mal. Karena sewa ruangan di mal relatif lebih mahal. Bila pilihannya membuka outlet, ada baiknya mengetahui selera masyarakat di sekitar outlet.
Misalkan saja pada lingkungan pesantren, sebaiknya outlet tersebut menjual parfum yang menonjolkan parfum ibadah non-alkohol. Sementara di lingkungan kampus, menonjolkan parfum branded dengan harga kompetitif.(hermansah)
[Download] |
20 November 2008 - 14:51:31
Konversi MITAN ke LPG
Melalui media ini kami sebagai warga bangsa yang peduli pada rakyat kecil, sangat prihatin terhadap kondisi rakyat kecil yang telah sekian lama terbisa dengan penggunaan MITAN sebagai bahan bakar untuk kebutuhan memasak, selama ini.
Konversi MITAN ke LPG , kalau sekedar untuk alasan penghematan subsidi , menurut saya sama juga bohong, karena kedua alternatif tersebut semuanya masih import dan termasuk sebagai sumber daya yang tidak dapat di perbaharui, shg kelangkaan dan kenaikan harga pasti terjadi dikemudian hari,
Mari kita lihat sejarah penggunaan energi untuk memasak pada masyarakat kita, dapat kami simpulkan dan urutkan sesuai sepengetahuan saya sejak saya lahir di tahun 1967 sbb :
1. Kayu bakar.
2. Arang kayu
3. Mitan
4. Gas LPG
Jadi menurut saya kenapa kita kok jauh-jauh harus konversi ke gas LPG , padahal dari sejarah pemakaian energi bahan pembakar, kenapa kita ngak kembali ke budaya awal dengan menggunakan arang sebagai alternatif penggunaan energi bakar kita.
Saran saya kepada pemerintah atau siapapun sebagai pemegang otoritas pengambil keputusan konversi MITAN ke LPG yang kebetulan membaca tulisan ini, marilah kita kaji kembali keputusan tersebut.
Menurut saya sebagai alternatif yang paling cocok bagi negara agraris yang sangat subur seperti negara kita adalah "ARANG" atau bahasa sekarangnya energi "BIOMASSA".
Pemanfaatan "ARANG" atau "BIOMASSA" sebagai energi alternatif perlu lebiih dulu di sosialisasikan dan di kaji lebih mendalam, karena hanya alternatif inilah masih lebih dekat dengan budaya kita. Bahkan sampai sekarang masih banyak kita lihat para penjual makanan keliling yang memanfaatkan 'ARANG" sebagai energi bakar , dengan alasan aroma rasa masakannya lebih khas dan tangan mereka tidak takut bau minyak pada saat melayani pelanggannya.
Sebagai akhir tulisana ini, saya mengajak para pembaca untuk turut mensosialisasikan dan memakai serta kembali "ARANG" sebagai energi alternatif energi modern.
Kepada para akademisi dan peneliti mari kita mengembangkan dan meneliti "ARANG" supaya lebih praktis dalam penyalaannya.
Selian dulu dari saya, sukses selalu
[] |
20 November 2008 - 14:51:31
UKM dan Krisis Energi ("Peak Oil")
Oleh: Okta Nofri
Usaha-usaha yang dilakukan para ahli energi dan lembaga-lembaga penelitian energi terbaharui (renewable energy) diprediksi tidak akan mampu mengimbangi kekurangan kebutuhan energi yang bakal terjadi. Alternatif-alternatif energi terbaharui seperti bio-diesel, biogas, energi matahari dan bricket sangat diragukan kapasitasnya dalam mengatasi krisis nantinya. Satu sumber energi yang diprediksi akan menggantikan energi alami adalah energi nuklir. Pemerintah Indonesia sudah mengumumkan untuk mulai mengaktifkan reaktor nuklirnya, walaupun hal ini memerlukan studi kelayakan yang sangat komprehensif yang memperhatikan faktor ekonomi, lingkungan, keamanan dan keberlanjutanya. Bagaimana dengan UKM?
[] |
20 November 2008 - 14:51:31
Globalisasi dan UKM Indonesia
Apakah globalisasi perlu ditolak? Tidak perlu lagi, karena memang sudah di programkan secara matang oleh penggagas, disetujui dan ditanda tangani (secara sepihak atau berjemaah) oleh yang ditunjuk sebagai pengambil keputusan di pertemuan-pertemuan di tingkat Internasional seperti WTO dan Regional seperti ASEAN. Oleh karena itu, Globalisasi tidak perlu ditolak tapi disikapi dengan persiapan matang. Globalisasi ibarat ujian bagi pelaku bisnis lokal seluruh Negara di dunia.
[] |
20 November 2008 - 14:51:31
Kiat Menghadapi Gempa
Gempa tidak pernah kita harapkan terjadi, namun kita harus tetap waspada, oleh karena itu saya ingin berbagi informasi mengenai hal ini, agar kita lebih siap dan korban tidak terlalu banyak.
[] |
20 November 2008 - 14:51:31
Formulir Pendaftaran CIL 2006
Formulir Pendaftaran Asia Interprise Analytical Instruments & Lab Equipment EU-Indonesia
[] |
20 November 2008 - 14:51:31
Briket Batu Bara
Bagi anda yang kena imbas dengan kenaikan BBM terutama dalam dunia peternakan yang selalu berhubungan dengan MINYAK TANAH sebagai bahan bakar. Sekarang sudah seharusnya berpikir bahan bakar apa yang lebih murah, tahan lama dan menghasilkan panas yang baik. Kami menawarkan BATU BARA (BRIKET) sebagai bahan alternatif pengganti BBM.
[] |
20 November 2008 - 14:51:31
Strategi Memasuki Pasar Jerman
Kerangka dasar penulisan paper ini adalah untuk memudahkan para eksportir Indonesia dalam mengenali pasar tujuan (dalam hal ini Jerman) dengan mengenali Profil negara RFJ, indikator ekonomi dan pasar, market size untuk 5 kelompok produk ekspor potensial Indonesia, Kebijaksanaan impor dan hambatan tarif dan non tarif serta strategi yang tepat untuk memasuki pasar RFJ sendiri.
[] |
20 November 2008 - 14:51:31
Kajian Pasar Kursi Kayu Tanpa Pelapis di Jerman
Paper ini merupakan hasil riset pasar produk kursi berkerangka kayu (seat with wooden frame) untuk pasar Jerman, meliputi peluang pasar dan pertumbuhannya, pangsa pasar (market share), negara pesaing utama di dunia dan pesaing regional di Asia Tenggara, saluran distribusi, prosedur impor, serta strategi untuk memasuki pasar.
[] |
20 November 2008 - 14:51:31
Informasi Pasar Tekstil Jerman
Jerman merupakan negara pengimpor tekstil dan pakaian terbesar di antara negara-negara Uni Eropa. Hal ini bukan suatu kebetulan bahwa produk tesktil dan derivativenya merupakan komoditi ekspor non migas nomor wahid Indonesia di Republik Federal Jerman (RFJ).
Menyadari hal tersebut, riset pasar tekstil di RFJ sudah sepantasnya mendapatkan perhatian khusus dengan pelaksanaan riset dan pengamatan pasar yang berkesinambungan.
Karena hanya dengan melalui pemahaman akan pasarlah, strategi pemasaran produk tekstil Indonesia akan dapat dilakukan dengan baik.
Dengan alasan di atas, maka Penulis bekerjasama dengan Atperindag selaku perwakilan RI di RFJ telah melakukan riset komprehensive tentang Informasi Pasar Tekstil di RFJ. Semoga hasil riset ini bermanfaat adanya bagi UKM, praktisi dan pembuatan keputusan khususnya di bidang perdagangan (ekspor-impor).
[] |
|
|
|
|
13/11/2008 - 12:47:05
|
12/11/2008 - 9:49:26
|
07/11/2008 - 20:57:55
|
04/11/2008 - 8:38:01
|
30/10/2008 - 10:09:00
|
|
|
|
|